VR Training Tidak Gagal, yang Gagal adalah Ekspektasinya
- Marketing Molca
- 16 jam yang lalu
- 2 menit membaca

Dalam beberapa tahun terakhir, Virtual Reality (VR) semakin sering diperbincangkan sebagai suatu solusi training masa depan yang imersif, realistis, dan dianggap mampu “menggantikan” berbagai metode pembelajaran konvensional. Namun, pada kenyataannya di lapangan tidak sedikit implementasi VR training yang kemudian di cap gagal.
Apakah VR nya yang tidak efektif, atau ekspetasi kita yang terlalu tinggi ?
Kesalahan Umum dalam Implementasi VR Training
Salah satu kesalahan umum yang sering terjadi ialah mengharapkan VR dapat menyelesaikan seluruh permasalahan training sekaligus sering diposisikan sebagai solusi instan seperti cukup pakai headset, maka learning gap akan tertutup dengan sendirinya.
Padahal tanpa adanya tujuan pembelajaran yang jelas, VR hanya menjadi pengalaman visual yang menarik saja, bukan menjadi alat yang berdampak. Banyak implementasi fokus pada seberapa realistis tampilannya, bukan pada apa yang harus dipelajari dan dikuasai oleh pekerja.
VR Bukan Pengganti Semua Metode Belajar
VR bukan pengganti training, mentoring, bahkan on-the-job training. Setiap metode memiliki peran masing-masing. VR ini paling efektif digunakan untuk :
Simulasi kondisi yang berisiko tinggi
Latihan prosedur kritikal
First exposure sebelum terjun ke lapangan
Pembentukan awarness terhadap situasi kompleks
Menggunakan VR untuk semua materi termasuk yang bersifat konseptual atau administratif justru malah membuat investasi tidak sepadan.
Pentingnya Tujuan Belajar yang Jelas
Implementasi VR training yang berhasil selalu dimulai dari satu pertanyaan sederhana, yakni “apa kompetensi yang ingin dibentuk?”
Ketika tujuan belajar jelas, VR dapat dirancang sebagai alat bantu yang tepat sasaran, bukan hanya sekedar pengalaman imersif. Apakah targetnya mengurangi human error? Melatih respon darurat? atau meningkatkan kesiapan mental pekerja?
Tanpa adanya kejelasan, VR akan dinilai “keren namun tidak berdampak”
Integrasi VR dengan Training Existing
Nilai terbesar VR akan muncul ketika terintegrasi dengan sistem training yang sudah ada, VR seharusnya menjadi bagian dari learning journey bukan berdiri sendiri.
Misalnya :
Teori tetap disampaikan
VR digunakan untuk simulasi
Lalu dilanjutkan dengan diskusi, evaluasi, dan praktik terkontrol di lapangan.
Pendekatan ini membuat VR berfungsi sebagai penguat pembelajaran, bukan solusi tunggal yang dipaksakan
Meluruskan Ekspetasi, Memaksimalkan Dampak
VR training tidak gagal, yang sering gagal adalah ekspetasi bahwa VR dapat melakukan segalanya sekaligus. Ketika digunakan dengan tujuan yang tepat dan terintegrasi dengan metode lain, VR justru menjadi alat yang sangat efektif terutama untuk meningkatkan kesiapan operasional dan keselamatan kerja.
Bagi perusahaan, kuncinya bukan “seberapa canggih teknologinya” melainkan “masalah apa yang ingin diselesaikan?”
Di Molca, kami membantu tim HR, HSE, dan Operations untuk merancang VR Training yang selaras dengan tujuan, standar keselamatan, dan kebutuhan operasional di lapangan. Dengan pendekatan berbasis skenario nyata dan integrasi ke program training yang sudah ada, VR digunakan bukan sekedar pengalaman imersif, melainkan sebagai alat untuk meningkatkan kesiapan para pekerja, mengurangi risiko, serta mendukung keselamatan kerja.



